Apa yang Terjadi Ketika Aku Cemas dan Depresi

Aku sedang tidak mau berputar-putar. Baca saja.

Menyalakan komputer, memutar lagu atau tidak sama sekali dan kembali berbaring di kasur. Aku harus mengerjakan sesuatu tapi aku sedang tidak ingin mengerjakannya. Membiarkan komputer menyala sampai pagi dan tidak ada pekerjaan yang selesai. Sedangkan tidak menyalakan komputer membuatku cemas.

Ingin segera minum obat karena merasa cemas dan sedih tapi waktu belum menunjukkan pukul 10 malam. Aku cemas apakah setelah minum obat aku akan tetap cemas dan sedih? Menyebalkan.

Mengirim pesan lebih dulu. Menunggu balasan pesan.

Membalas pesan. Menunggu balasan pesan. Jika pesan tidak dibalas dalam waktu lama, aku akan sangat sangat cemas.

Memasuki Cafe pertama kali sendirian. Bagaimana cara memesannya? Bagaimana jika uangku kurang? Dimana tempat duduk yang tidak terlalu mencolok? Apakah orang akan memperhatikanku ketika aku masuk dan berjalan ke kasir?

Duduk di Cafe sendirian. Aku harus membuang sampah. Tempat sampahnya ada di dekat meja sebelah. Apakah orang akan memperhatikanku ketika aku bergerak dari mejaku dan membuang sampah? Baiklah, buang sampahnya dirumah saja.

Berbaring sendirian di malam hari. Menatap langit-langit atau tembok. Memikirkan masa lalu dan ingin mengulangnya kembali tanpa kesalahan. Memikirkan masa depan bagaimana bila begini dan begitu. Berbicara sendiri dan mulai menangis karena hatiku sakit dan sesak. Tersadar dan kembali menatap seisi kamar. Aku di kamar. Kembali ke awal paragraf ini.

Nanti kuberitahu lagi sisanya, aku mengantuk.

Menunggu Malam

Aku menunggu-nunggu malam tiba, sehingga tak perlu berpura-pura bahwa aku baik-baik saja

Aku menanti bulan segera berada di posisi tertinggi sehingga diam-diam aku bisa menangis tanpa henti

Membuka kotak obat dengan berisik dan menelan semuanya tanpa perlu bersembunyi

Hariku telah berakhir, aku hanya ingin tertidur secepatnya dan melupakan segala kesedihan, melupakan hari kemarin yang kulalui tanpa beranjak dari tempat tidur

Badanku lelah, pikiranku pun berdialog entah dengan siapa, seolah-olah ingin mengatur semua yang terjadi diluar kepala.

Umurku sudah terlalu tua untuk mendatangi Ibu dan menidurkan kepalaku di pahanya yang letih menopang beban keluarga, tapi aku terlampau sedih dan hatiku perih. Aku ingin berbicara pada Ibu, ingin berkata padanya bahwa aku sangat lelah.

Namun aku hanya berbaring seharian meratapi kesedihan yang katanya tidak berarti…

Apakah aku manusia yang tidak berharga?

Berulang

Kenapa seperti ini lagi?

Berkali-kali bertanya, berulang kali diberi jawabannya, aku tidak juga terbiasa.

Katanya, jika luka belum sembuh benar dan kembali berlari, maka akan terjatuh juga di lubang yang sama. Katanya, jika luka belum sembuh benar dan tak mempelajari apa yang pernah terjadi, maka akan kembali dihadapkan pada masalah yang sama sampai lulus ujian.

Setengah mati. Apa artinya level apresiasi diriku belum juga naik? Sampai kapan? Aku tidak tahu juga kapan lukaku kering. Apa selama ini obatnya selalu salah?

Sesal

Sungguh, melukai orang lain itu tidak menyenangkan. Ada sesal bergumpal di ruang-ruang kesendirian. Ada harapan untuk kembali memperbaiki namun sudah terlambat. Sampai tidak bisa kupahami mengapa orang lain tega menyakiti pihak lainnya.

Meski memang sebuah sesal terpaksa harus berubah menjadi pelajaran. Terpaksa belajar dari pengalaman. Meski tak menyenangkan persoalan seperti ini seharusnya mendewasakan.

Penyesalan itu berat dan hidup kadang terasa serba salah, namun akan lebih berat jika kaki terseok oleh masa lalu. Meski perlahan, maafkanlah dirimu sendiri. Hadirlah disini.

Catatan #1

Trigger warning.

Minggu malam lalu, rasanya sesak.

Aku menangis hingga jam 2 pagi.

Rasanya mengerikan, seperti ingin menjerit dengan sekuat tenaga tapi tidak bisa.

Aku seperti sedang berbicara dengan seseorang, berkali-kali aku melambaikan tangan dan memohon untuk berhenti, minta tolong, dan berkata aku tidak sanggup.

“Kan sudah kubilang, bahagiamu itu sementara, sedihmu selamanya”

“Bagaimana kalau aku gagal beasiswa lagi?”

“Memang tidak mungkin kok”

“Baik-baik saja itu kata siapa sih?”

“할리…”

“유리 좋아”

“Mana cutter aku”

“민규는 이제 여자 친구가 있어요”

“Capek ya? Gagal terus. Beban”

Kalimat-kalimat itu terus berulang di kepalaku dan cutter sudah kembali kupegang. Aku selalu membayangkan diriku sendiri merobek mulutku karena terlalu banyak bicara pada saat pikiranku ramai.

Aku berhasil melempar cutter setelah menahan cukup lama di pergelangan tangan. Aku berhasil tidak menarik cutternya meskipun itu menyisakan garis kemerahan. Kuambil kembali setelah memohon-mohon pada diriku sendiri untuk berhenti. Menutupnya dan menaruhnya jauh-jauh dari tempat tidurku.

Aku tertidur setelah minum obat dan merasa tenang. Aku berhasil tidak melukai diriku sendiri malam itu.

Keesokan harinya, aku pusing dan seperti biasa, mataku bengkak seperti kodok.